Sabtu, 13 September 2014

PELAJARAN TENTANG UANG

PELAJARAN TENTANG UANG YANG TAK DI PELAJARI DI SEKOLAH MANAPUN

Sebelum membaca artikel lainnya mengenai
perencanaan keuangan, silahkan simak dua
ilustrasi berikut ini.
Setelah itu, silahkan putuskan sendiri
apakah perencanaan keuangan keluarga
perlu dilakukan atau tidak ?
Kisah I
Bapak B adalah seorang direktur di
sebuah perusahaan yang sangat
terkenal. Bapak B lulus dari universitas
ternama di dalam negeri kemudian
melanjutkan pendidikannya di luar
negeri. Kariernya pun sangat baik dan
prestasinya di perusahaan sungguh luar
biasa. Usianya saat ini sudah tidak muda
lagi dan sebentar lagi, dirinya akan
segera memasuki masa pensiun. Waktu
pun berlalu dan akhirnya ia
memutuskan untuk pensiun. Saat
pensiun, ia memiliki kekayaan yang
cukup lumayan berupa deposito, rumah,
apartemen, dan yang lainnya yang
apabila ditotal bisa mencapai puluhan
milyar.
Semasa menjabat di perusahaan
tempatnya bekerja, gaji bulanannya
mencapai ratusan juta rupiah, belum
termasuk berbagai bonus dan tunjangan
jabatan yang lainnya. Ia memiliki 2
anak yang saat ini sedang kuliah di luar
negeri sehingga biaya bulanan yang
harus dikeluarkan cukup mahal. Di
samping itu, Bapak B ini memiliki gaya
hidup yang luar biasa mewah dan
terbilang boros. Apalagi, kesibukannya
di perusahaan menyebabkan dirinya
tidak terlalu memikirkan keadaan
keuangan pribadi dan keluarganya.
Buktinya, semasa menjabat di
perusahaan, Bapak B tidak memiliki
sumber penghasilan yang lainnya. Satu-
satunya sumber penghasilan adalah gaji
di tempat kerjanya.
Kebetulan, perusahaan tempatnya
bekerja memberikan pesangon pensiun
yang ditransfer bulanan. Tunjangan
pensiunnya hanya sekitar 10 juta per
bulan. Jadi, seusai pensiun, penghasilan
yang sebelumnya mencapai ratusan juta
rupiah, saat ini hanya sekitar 10 juta
rupiah per bulan.
Tiga tahun pertama ia pensiun, tidak ada
masalah yang terjadi karena
tabungannya masih bisa membiayai
kehidupannya. Setelah 3 tahun berlalu,
ia mulai merasakan ada yang tidak beres
dengan kehidupannya. Ia telah terbiasa
hidup dengan penghasilan ratusan juta
per bulan dan tiba – tiba saat ini
penghasilannya hanya 10 juta per bulan.
Inilah yang sering kita kenal dengan
nama post power syndrome, di mana
seseorang kehilangan kekuasaan dan
penghasilan setelah pensiun. Singkat
kata, jumlah tabungannya tidak cukup
lagi dan ia harus pelan-pelan menjual
aset-aset propertinya satu per satu,
dimulai dari rumah dan apartemen
investasinya, terutama agar anak-
anaknya bisa tetap bersekolah di luar
negeri.
Malang tak dapat dihindari, gaya hidup
bapak B yang tidak sehat serta
kurangnya aktivitas olahraga membuat
daya tahan tubuhnya tidak terlalu baik.
Tiba-tiba, bapak B ini divonis penyakit
kanker oleh dokter langganannya dan
membutuhkan biaya kemoterapi yang
jumlahnya milyaran rupiah yang
mengakibatkan ia harus menjual aset
propertinya yang terakhir, yakni rumah
yang ditinggalinya, sehingga ia terpaksa
menyewa rumahnya sendiri.
Kekhawatirannya pun semakin
bertambah parah karena saat ini anak-
anaknya terpaksa tidak dapat
melanjutkan kuliahnya di luar negeri
karena kurangnya biaya akibat penyakit
yang dideritanya serta sulitnya
mengubah gaya hidup yang telah
bertahun-tahun menjadi kebiasaan.
Untung saja, Bapak B memiliki aset yang
masih cukup untuk membiayai
penyakitnya karena jabatannya semasa
kerja sangatlah tinggi, meskipun pada
akhirnya tetap saja Bapak B harus
memendam dalam-dalam mimpinya
untuk menyekolahkan anak-anaknya di
luar negeri. Coba bayangkan apabila
bapak B ini tidak memiliki jabatan yang
bagus semasa bekerja, tentunya ia harus
berhutang ke sana kemari untuk
membiayai penyakit dan
mempertahankan gaya hidupnya, yang
pada akhirnya akan semakin
membebani kehidupan keuangannya di
masa depan.
Akhirnya, saat ini anak-anaknya
terpaksa melanjutkan kuliah di dalam
negeri. Untungnya, anak-anaknya
adalah anak-anak yang berbakti dan
mau mengerti keadaan orang tuanya.
Mereka sekeluarga pun terpaksa
menurunkan gaya hidupnya karena
asetnya yang tersisa tidak lagi sebanyak
dulu dan mulai sekarang, mereka harus
belajar hidup hemat.
Kisah II
Bapak F adalah lulusan dari universitas
dalam negeri yang tergolong biasa-biasa
saja. Kariernya pun biasa-biasa saja dan
tidak secemerlang bapak B. Akan tetapi,
semasa dia bekerja, istrinya mulai
mencari penghasilan tambahan dengan
berjualan secara online. Bapak F juga
orang yang gemar membaca dan gemar
belajar sehingga ia selalu berinvestasi
secara rutin setiap bulannya ke
instrumen-instrumen logam mulia,
reksadana, dan juga saham. Investasi-
investasinya di instrumen likuid tersebut
digunakannya sebagai DP (uang muka)
untuk membeli rumah pertamanya.
Yang menyenangkan, usaha istrinya juga
semakin maju dan mereka mulai
membeli franchise kecil-kecilan sehingga
mereka memiliki lebih dari satu sumber
pendapatan. Mereka berdua pun paham
konsep investasi dan re-investasi
sehingga jumlah uang yang mereka
investasikan semakin lama semakin
banyak hingga akhirnya mereka berdua
memiliki aset yang jumlahnya mencapai
milyaran rupiah dan pada akhirnya
dapat menyekolahkan kedua putra-putri
mereka ke luar negeri.
Saat ini, usia bapak F tidak muda lagi
dan telah memasuki masa pensiun.
Akhirnya, bapak F pun pensiun dan
menerima uang pesangon bulanan yang
jumlahnya hanya 5 juta rupiah per
bulan, tidak sebesar uang pesangon yang
diterima oleh bapak B.
Namun bedanya, usaha-usaha
sampingan bapak F saat ini justru
memberikan arus kas yang jumlahnya
lebih besar dibandingkan
penghasilannya semasa bekerja. Bapak F
juga memiliki aset-aset properti yang
disewakan sehingga menghasilkan arus
kas setiap bulannya. Selain itu, uang
yang telah diinvestasikannya di
reksadana saham dan instrumen saham
selama bertahun-tahun, ia putuskan
untuk dicairkan dan disimpan ke
deposito sehingga ia memiliki
penghasilan bulanan seperti orang
gajian. Bapak F pensiun dengan nyaman
dan penghasilannya di masa pensiun
malah lebih besar dibandingkan
penghasilannya semasa bekerja.
Memang, aset bapak F tidak sebanyak
bapak B. Akan tetapi, Bapak F paham
benar mengenai konsep perencanaan
keuangan. Bapak F dan istrinya adalah
orang yang selalu menjaga kesehatan
dan pola makannya. Di samping itu,
mereka pun memiliki dana darurat yang
siap untuk menghadapi risiko-risiko
jangka pendek yang mungkin terjadi.
Untuk risiko jangka panjang seperti
penyakit yang mungkin saja terjadi
sewaktu-waktu, mereka telah melindungi
dirinya dengan proteksi asuransi. Jadi,
apabila di masa depan timbul penyakit
tertentu, dirinya tidak perlu khawatir
kalau aset-aset yang telah
dikumpulkannya selama ini habis
seketika karena risiko penyakitnya
sudah ditanggung oleh perusahaan
asuransi.
Bapak F dan istrinya pun saat ini hidup
menikmati masa pensiun tanpa
membebani anak-anaknya dan aset-
asetnya pun terus menerus bertambah
seiring dengan berjalannya waktu.
Sebaliknya, bapak B menjadi beban bagi
anak-anaknya karena anak-anaknya
terpaksa membiayai kehidupan ayahnya
yang saat ini sudah tidak lagi produktif
seperti sedia kala.
Demikianlah dua cerita yang sungguh
terjadi di kehidupan nyata. Bapak B
(bankrupt) tidak menerapkan konsep
perencanaan keuangan dalam
kehidupannya sehingga kekayaannya
makin lama makin menurun, sedangkan
Bapak F (financial freedom) menerapkan
konsep perencanaan keuangan sehingga
ia dapat menikmati masa tuanya dengan
nyaman dan tentram.


    Choose :
  • OR
  • To comment
Tidak ada komentar:
Write comments

Advertisement

VIDEO VIRAL