PERENCANAAN KEUANGAN

Peristiwa dan situasi kurang menyenangkan–biasanya tidak terduga dan tidak terencana–bisa terjadi sewaktu-waktu. Supaya Anda tidak terlalu terkejut–biasanya juga diiringi depresi dan ”terdesak”–saat itu terjadi, kuncinya satu: Dana darurat.
Dana darurat adalah tameng yang melindungi Anda dari segala kesialan dan bencana. Dengan uang ,dalam jumlah memadai yang Anda sisihkan untuk persiapan menghadapi hari-hari berat, Anda punya peluang lebih baik melewatinya. Anda dan keluarga bisa punya cukup waktu untuk menyesuaikan diri, dan tidak perlu mengubah gaya hidup dalam sehari.
Tanpa dana darurat, tiap peristiwa dan situasi kurang menyenangkan bisa-bisa berubah jadi masalah keuangan serius. Tapi sayangnya, masih banyak orang yang mengabaikannya, seakan hidup yang mereka jalani akan selalu lempeng. Bahkan kalaupun mereka ”terjungkal” dan terpuruk secara keuangan suatu hari, mereka sanggup meyakinkan diri sendiri, peristiwa dan situasi yang sama takkan pernah terjadi lagi.
Anda kenal orang yang begitu beruntung sehingga seumur hidupnya tidak pernah mengalami masalah? Kalaupun ya, orang itu termasuk golongan langka. Untuk sebagian besar manusia, hidup selalu menawarkan periode yang menyesakkan.
Tanpa dana darurat, sama juga Anda berjudi. Mau kehilangan segalanya? Kalau tidak, Anda tidak punya pilihan. Mulailah menabung. Dan mulailah sekarang!
Pinjam atau Simpan?
Anda sudah tahu pentingnya punya dana darurat. Tapi mungkin masih ragu melakukannya. Keluhan yang kerap terlontar, ”Begitu banyak uang yang disimpan, mengendap sia-sia, bukannya dibelanjakan untuk barang-barang berguna. Kadang ada yang melanjutkan, ”Buat apa menyiapkan dana darurat? Kalau sesuatu yang buruk menimpa, saya selalu bisa berutang.”
Ya, kalau Anda bekerja di kantor, mungkin Anda bisa pinjam uang untuk mengatasi kebutuhan di tengah situasi mendesak. Ada juga kartu kredit. Pun kredit-kredit lain yang ditawarkan bank. Tapi bagaimana kalau peristiwa darurat itu membuat Anda kehilangan pekerjaan? Akses ke kredit otomatis tertutup kan.
Pinjam uang tidak ilegal. Kadang juga perlu. Anda mungkin termasuk salah satu di antara begitu banyak orang yang takkan pernah punya rumah kalau bukan berkat KPR. Masalahnya bukan kredit seperti itu, melainkan kredit yang lebih mudah Anda akses. Kredit dengan suku bunga tinggi, yang bunganya berbunga lagi kalau Anda terlambat lunasi. Banyak orang yang butuh bertahun-tahun untuk melunasi seluruh utang kartu kreditnya. Beberapa malah tidak pernah sanggup!
Sisi Gelap Utang
Kartu kredit termasuk cara nyaman membiayai belanja Anda. Kalau Anda belanja sebatas kesanggupan Anda membayar, dan melunasi seluruh tagihan tepat waktu, boleh-boleh saja kartu kredit Anda gesekkan.
Tapi kalau Anda menganggap kartu kredit adalah sumber uang tunai tambahan, masalah sudah di depan mata. Saat tagihan datang, katakanlah Anda bayar tagihan minimal. Sisa utang kemudian dikenai bunga tinggi, dan ditagih di periode berikutnya. Mengingat saat itu Anda sedang mengalami kesulitan keuangan, berapa besar kemungkinan Anda sanggup melunasinya? Atau tunda saja lagi? Bunganya tentu berbunga. Dan berbunga lagi. Anda pun tenggelam makin dalam dalam jeratan utang.
Pinjaman ekuitas rumah juga berpotensi menghancurkan. Kredit ini memungkinkan Anda meminjam uang dengan rumah yang Anda miliki sebagai jaminan. Hati-hati. Kalau harga properti anjlok, nilai rumah itu mungkin tidak sepadan dengan pinjaman yang Anda terima. Bank akan meminta Anda membayar sejumlah uang tunai untuk menyeimbangkan selisih itu. Yakin saat itu Anda punya akses ke uang tunai sebanyak itu? Kalau tidak, keuangan Anda bisa terhantam telak. Penalti akibat kegagalan membayarkan uang tunai yang diminta bank bisa berupa suku bunga lebih tinggi, atau kehilangan rumah Anda, atau bahkan keduanya.
Terakhir, hindari menggunakan tabungan pensiun Anda sebagai dana darurat. Jangan sampai Anda jalani hari-hari tua dengan tabungan yang menipis. Lagipula, Anda mungkin harus menanggung penalti akibat penarikan investasi sebelum jatuh tempo. Dan, bagaimana kalau ternyata Anda tidak bisa mengelola uang yang Anda tarik itu dengan baik? Pensiun tanpa tabungan dan dana darurat, itu risikonya.
Dana Darurat, Simpan Berapa?
Coba tanyakan pada perencana keuangan, berapa baiknya dana darurat. Jawaban mereka biasanya tidak jauh dari, ”Yang cukup untuk pengeluaran selama tiga hingga enam bulan, tapi tergantung Anda.”
Jawaban sesederhana ini pun bisa melahirkan interpretasi beragam. Beberapa perencana yakin, tabungan sebesar 3 – 6 kali pengeluaran bulanan sudah cukup. Yang lain menyarankan 3 – 6 kali gaji bulanan. Atau, dua kali lipat kalau Anda dan pasangan sama-sama berpenghasilan rutin.
Dua interpretasi berbeda ini bisa menghadirkan dua angka dengan selisih cukup besar. Gampangnya, yang keluar tidak boleh melebihi yang masuk. Pengeluaran bulanan harusnya lebih rendah dari pendapatan bulanan–yang bagi sebagian besar orang adalah gaji. Kalau tidak, tunda dana darurat. Prioritas pertama Anda adalah mengendalikan belanja dan memangkas utang.
Begitu masalah besar pasak daripada tiang itu beres, saatnya Anda mulai menabung untuk dana darurat.
Kalau Anda lajang dan tidak punya tanggungan, sisihkan uang sebesar tiga kali gaji atau pengeluaran bulanan. Mestinya itu cukup untuk permulaan. Tapi bukan berarti Anda berhenti di titik itu. Makin banyak yang Anda sisihkan, makin ”aman” Anda menghadapi beragam perubahan tidak terduga. Kalau memungkinkan, tabunglah hingga 6 kali gaji atau pengeluaran bulanan.
Kalau Anda berkeluarga, tabunglah hingga 6 bulan pengeluaran bulanan. Ini angka minimal untuk marjin keamanan yang wajar. Tapi kalau ada tanggungan Anda yang termasuk berisiko tinggi–seseorang dengan riwayat medis dalam keluarga mengidap penyakit jantung, misalnya–jelas Anda butuh tabungan lebih besar. Selain itu, jumlah tanggungan berpengaruh. Makin banyak yang Anda tanggung, makin besar pula kemungkinan pengeluaran tidak terduga dan tidak terencana, dan makin banyak yang sebaiknya Anda tabung.
Pertimbangan lain yang tak kalah pentingnya: Seberapa cepat Anda bisa temukan pekerjaan baru?
Kalau Anda seorang suster terlatih, misalnya. Dan profesi itu termasuk yang banyak dibutuhkan di tempat tinggal Anda. Marjin keamanan keuangan yang Anda butuhkan relatif rendah.
Tapi kalau pekerjaan Anda spesialis, misalnya penjaga hutan atau insinyur di pabrik komponen elektronik tertentu, mencari pekerjaan serupa saat tenaga Anda tidak dibutuhkan lagi mungkin lebih susah. Inilah pentingnya meningkatkan marjin keamanan. Anda punya lebih banyak waktu untuk mencari pekerjaan yang cocok. Dan terhindar dari keterpaksaan menerima pekerjaan yang Anda tidak inginkan.
Kalau pekerjaan Anda benar-benar spesialis, dana darurat sebaiknya cukup untuk kebutuhan hidup Anda selama 9 bulan.
Realistis soal Kebutuhan
Hati-hati kalau Anda menggunakan pengeluaran bulanan sebagai patokan. Jangan sampai Anda kekurangan akibat terlalu meremehkan kebutuhan. Hitung saja berapa banyak yang Anda keluarkan rata-rata per bulan, termasuk segala pengeluaran tidak terencana. Kalikan angka itu dengan 3 atau 6, itulah target yang harus Anda capai.
Aman sebelum Untung
Saat mengumpulkan dana darurat, jangan kuatir soal pengembalian yang rendah, inflasi, dan fluktuasi kurs. Bukan prioritas. Pastikan saja keamanan serta akses mudah dan cepat ke uang tunai yang Anda simpan itu. Penuhi dulu dua kriteria itu sebelum Anda mulai memikirkan besarnya pengembalian.
Ingat, dana darurat bukan bagian dari portfolio investasi. Tujuan menabung ini bukan pengembalian untuk Anda belanjakan kelak. Dana darurat adalah asuransi. Pelindung Anda dari segala ketidakpastian. Seperti asuransi, tujuannya memberi Anda ketenangan batin.
Beberapa perencana keuangan yakin, dana darurat sebaiknya disimpan dalam bentuk uang tunai. Yang lain merekomendasikan investasi konservatif yang sangat likuid. Saran-saran ini serupa dalam dua hal: uang Anda jadi lebih aman, dan bisa ditarik kapan saja. Pengembalian? Jelas sangat rendah.
Jangan berharap pengembalian dari dana darurat. Apalagi kalau bentuknya tabungan atau deposito dengan bunga berbunga sepanjang kurun waktu yang lama. Katakanlah Anda simpan USD 10 ribu dalam deposito dengan suku bunga 2 persen, yang dihitung harian. Selewat 2 tahun, Anda akan peroleh total USD 16.486,99. Sedikit bukan? Tak masalah.
Kalau Anda paham keuangan, carilah instrumen keuangan terbaik untuk menyimpan dana darurat itu. Terbaik di sini berarti pengembalian terbesar yang bisa Anda peroleh tanpa mengganggu keamanan dan akses. Mencari bantuan profesional juga tak ada salahnya. Tentu ada harga untuk jasa mereka, tapi sepadan dengan potensi perbedaan pengembalian yang bisa Anda peroleh.
Yang Anda harus selalu ingat, manusiawi sekali kalau sumber uang yang terlalu mudah diakses itu jadi sumber pertama yang Anda andalkan saat butuh. Masalahnya, yakin Anda benar-benar butuh? Atau hanya ingin?
Bertahanlah dari godaan menguras dana darurat untuk liburan, investasi, dan beragam pembelian lain yang tidak terencana–dan biasanya tidak Anda butuhkan.
Lebih buruk lagi kalau Anda tidak sadar Anda telah menggunakan dana darurat untuk belanja impulsif itu. Solusinya, simpan dana darurat dalam rekening terpisah dari rekening belanja harian. Kalau Anda susah mengendalikan diri, simpan buku tabungan dan buku cek dalam kotak terkunci.
Kesuksesan mengumpulkan dana darurat tergantung 2 hal:
Memilih Investasi dengan Pengembalian Tinggi
Tentu ada banyak produk investasi lainnya yang menawarkan pengembalian jauh lebih baik. Tapi kebanyakan ”mengikat” uang Anda dalam kurun waktu lebih panjang, atau memaparkan tabungan itu ke risiko fluktuasi pasar. Maukah Anda kalau dana darurat yang harusnya untuk kebutuhan darurat itu terikat hingga jatuh tempo? Yakin Anda masih bisa bernapas lega saat kebutuhan darurat itu muncul dan uang Anda berkurang nilainya akibat fluktuasi pasar? Tentu tidak. Lagipula, yang darurat bukan lagi disebut darurat kalau Anda bisa menebak kapan tepatnya. Karena itulah Anda bersiap-siap, ya kan?
Menyiapkan Dana Darurat
Peristiwa dan situasi kurang menyenangkan–biasanya tidak terduga dan tidak terencana–bisa terjadi sewaktu-waktu. Supaya Anda tidak terlalu terkejut–biasanya juga diiringi depresi dan ”terdesak”–saat itu terjadi, kuncinya satu: Dana darurat.
Dana darurat adalah tameng yang melindungi Anda dari segala kesialan dan bencana. Dengan uang ,dalam jumlah memadai yang Anda sisihkan untuk persiapan menghadapi hari-hari berat, Anda punya peluang lebih baik melewatinya. Anda dan keluarga bisa punya cukup waktu untuk menyesuaikan diri, dan tidak perlu mengubah gaya hidup dalam sehari.
Tanpa dana darurat, tiap peristiwa dan situasi kurang menyenangkan bisa-bisa berubah jadi masalah keuangan serius. Tapi sayangnya, masih banyak orang yang mengabaikannya, seakan hidup yang mereka jalani akan selalu lempeng. Bahkan kalaupun mereka ”terjungkal” dan terpuruk secara keuangan suatu hari, mereka sanggup meyakinkan diri sendiri, peristiwa dan situasi yang sama takkan pernah terjadi lagi.
Anda kenal orang yang begitu beruntung sehingga seumur hidupnya tidak pernah mengalami masalah? Kalaupun ya, orang itu termasuk golongan langka. Untuk sebagian besar manusia, hidup selalu menawarkan periode yang menyesakkan.
Tanpa dana darurat, sama juga Anda berjudi. Mau kehilangan segalanya? Kalau tidak, Anda tidak punya pilihan. Mulailah menabung. Dan mulailah sekarang!
Pinjam atau Simpan?
Anda sudah tahu pentingnya punya dana darurat. Tapi mungkin masih ragu melakukannya. Keluhan yang kerap terlontar, ”Begitu banyak uang yang disimpan, mengendap sia-sia, bukannya dibelanjakan untuk barang-barang berguna. Kadang ada yang melanjutkan, ”Buat apa menyiapkan dana darurat? Kalau sesuatu yang buruk menimpa, saya selalu bisa berutang.”
Ya, kalau Anda bekerja di kantor, mungkin Anda bisa pinjam uang untuk mengatasi kebutuhan di tengah situasi mendesak. Ada juga kartu kredit. Pun kredit-kredit lain yang ditawarkan bank. Tapi bagaimana kalau peristiwa darurat itu membuat Anda kehilangan pekerjaan? Akses ke kredit otomatis tertutup kan.
Pinjam uang tidak ilegal. Kadang juga perlu. Anda mungkin termasuk salah satu di antara begitu banyak orang yang takkan pernah punya rumah kalau bukan berkat KPR. Masalahnya bukan kredit seperti itu, melainkan kredit yang lebih mudah Anda akses. Kredit dengan suku bunga tinggi, yang bunganya berbunga lagi kalau Anda terlambat lunasi. Banyak orang yang butuh bertahun-tahun untuk melunasi seluruh utang kartu kreditnya. Beberapa malah tidak pernah sanggup!
Sisi Gelap Utang
Kartu kredit termasuk cara nyaman membiayai belanja Anda. Kalau Anda belanja sebatas kesanggupan Anda membayar, dan melunasi seluruh tagihan tepat waktu, boleh-boleh saja kartu kredit Anda gesekkan.
Tapi kalau Anda menganggap kartu kredit adalah sumber uang tunai tambahan, masalah sudah di depan mata. Saat tagihan datang, katakanlah Anda bayar tagihan minimal. Sisa utang kemudian dikenai bunga tinggi, dan ditagih di periode berikutnya. Mengingat saat itu Anda sedang mengalami kesulitan keuangan, berapa besar kemungkinan Anda sanggup melunasinya? Atau tunda saja lagi? Bunganya tentu berbunga. Dan berbunga lagi. Anda pun tenggelam makin dalam dalam jeratan utang.
Pinjaman ekuitas rumah juga berpotensi menghancurkan. Kredit ini memungkinkan Anda meminjam uang dengan rumah yang Anda miliki sebagai jaminan. Hati-hati. Kalau harga properti anjlok, nilai rumah itu mungkin tidak sepadan dengan pinjaman yang Anda terima. Bank akan meminta Anda membayar sejumlah uang tunai untuk menyeimbangkan selisih itu. Yakin saat itu Anda punya akses ke uang tunai sebanyak itu? Kalau tidak, keuangan Anda bisa terhantam telak. Penalti akibat kegagalan membayarkan uang tunai yang diminta bank bisa berupa suku bunga lebih tinggi, atau kehilangan rumah Anda, atau bahkan keduanya.
Terakhir, hindari menggunakan tabungan pensiun Anda sebagai dana darurat. Jangan sampai Anda jalani hari-hari tua dengan tabungan yang menipis. Lagipula, Anda mungkin harus menanggung penalti akibat penarikan investasi sebelum jatuh tempo. Dan, bagaimana kalau ternyata Anda tidak bisa mengelola uang yang Anda tarik itu dengan baik? Pensiun tanpa tabungan dan dana darurat, itu risikonya.
Dana Darurat, Simpan Berapa?
Coba tanyakan pada perencana keuangan, berapa baiknya dana darurat. Jawaban mereka biasanya tidak jauh dari, ”Yang cukup untuk pengeluaran selama tiga hingga enam bulan, tapi tergantung Anda.”
Jawaban sesederhana ini pun bisa melahirkan interpretasi beragam. Beberapa perencana yakin, tabungan sebesar 3 – 6 kali pengeluaran bulanan sudah cukup. Yang lain menyarankan 3 – 6 kali gaji bulanan. Atau, dua kali lipat kalau Anda dan pasangan sama-sama berpenghasilan rutin.
Dua interpretasi berbeda ini bisa menghadirkan dua angka dengan selisih cukup besar. Gampangnya, yang keluar tidak boleh melebihi yang masuk. Pengeluaran bulanan harusnya lebih rendah dari pendapatan bulanan–yang bagi sebagian besar orang adalah gaji. Kalau tidak, tunda dana darurat. Prioritas pertama Anda adalah mengendalikan belanja dan memangkas utang.
Begitu masalah besar pasak daripada tiang itu beres, saatnya Anda mulai menabung untuk dana darurat.
Kalau Anda lajang dan tidak punya tanggungan, sisihkan uang sebesar tiga kali gaji atau pengeluaran bulanan. Mestinya itu cukup untuk permulaan. Tapi bukan berarti Anda berhenti di titik itu. Makin banyak yang Anda sisihkan, makin ”aman” Anda menghadapi beragam perubahan tidak terduga. Kalau memungkinkan, tabunglah hingga 6 kali gaji atau pengeluaran bulanan.
Kalau Anda berkeluarga, tabunglah hingga 6 bulan pengeluaran bulanan. Ini angka minimal untuk marjin keamanan yang wajar. Tapi kalau ada tanggungan Anda yang termasuk berisiko tinggi–seseorang dengan riwayat medis dalam keluarga mengidap penyakit jantung, misalnya–jelas Anda butuh tabungan lebih besar. Selain itu, jumlah tanggungan berpengaruh. Makin banyak yang Anda tanggung, makin besar pula kemungkinan pengeluaran tidak terduga dan tidak terencana, dan makin banyak yang sebaiknya Anda tabung.
Pertimbangan lain yang tak kalah pentingnya: Seberapa cepat Anda bisa temukan pekerjaan baru?
Kalau Anda seorang suster terlatih, misalnya. Dan profesi itu termasuk yang banyak dibutuhkan di tempat tinggal Anda. Marjin keamanan keuangan yang Anda butuhkan relatif rendah.
Tapi kalau pekerjaan Anda spesialis, misalnya penjaga hutan atau insinyur di pabrik komponen elektronik tertentu, mencari pekerjaan serupa saat tenaga Anda tidak dibutuhkan lagi mungkin lebih susah. Inilah pentingnya meningkatkan marjin keamanan. Anda punya lebih banyak waktu untuk mencari pekerjaan yang cocok. Dan terhindar dari keterpaksaan menerima pekerjaan yang Anda tidak inginkan.
Kalau pekerjaan Anda benar-benar spesialis, dana darurat sebaiknya cukup untuk kebutuhan hidup Anda selama 9 bulan.
Realistis soal Kebutuhan
Hati-hati kalau Anda menggunakan pengeluaran bulanan sebagai patokan. Jangan sampai Anda kekurangan akibat terlalu meremehkan kebutuhan. Hitung saja berapa banyak yang Anda keluarkan rata-rata per bulan, termasuk segala pengeluaran tidak terencana. Kalikan angka itu dengan 3 atau 6, itulah target yang harus Anda capai.
Aman sebelum Untung
Saat mengumpulkan dana darurat, jangan kuatir soal pengembalian yang rendah, inflasi, dan fluktuasi kurs. Bukan prioritas. Pastikan saja keamanan serta akses mudah dan cepat ke uang tunai yang Anda simpan itu. Penuhi dulu dua kriteria itu sebelum Anda mulai memikirkan besarnya pengembalian.
Ingat, dana darurat bukan bagian dari portfolio investasi. Tujuan menabung ini bukan pengembalian untuk Anda belanjakan kelak. Dana darurat adalah asuransi. Pelindung Anda dari segala ketidakpastian. Seperti asuransi, tujuannya memberi Anda ketenangan batin.
Beberapa perencana keuangan yakin, dana darurat sebaiknya disimpan dalam bentuk uang tunai. Yang lain merekomendasikan investasi konservatif yang sangat likuid. Saran-saran ini serupa dalam dua hal: uang Anda jadi lebih aman, dan bisa ditarik kapan saja. Pengembalian? Jelas sangat rendah.
Jangan berharap pengembalian dari dana darurat. Apalagi kalau bentuknya tabungan atau deposito dengan bunga berbunga sepanjang kurun waktu yang lama. Katakanlah Anda simpan USD 10 ribu dalam deposito dengan suku bunga 2 persen, yang dihitung harian. Selewat 2 tahun, Anda akan peroleh total USD 16.486,99. Sedikit bukan? Tak masalah.
Kalau Anda paham keuangan, carilah instrumen keuangan terbaik untuk menyimpan dana darurat itu. Terbaik di sini berarti pengembalian terbesar yang bisa Anda peroleh tanpa mengganggu keamanan dan akses. Mencari bantuan profesional juga tak ada salahnya. Tentu ada harga untuk jasa mereka, tapi sepadan dengan potensi perbedaan pengembalian yang bisa Anda peroleh.
Yang Anda harus selalu ingat, manusiawi sekali kalau sumber uang yang terlalu mudah diakses itu jadi sumber pertama yang Anda andalkan saat butuh. Masalahnya, yakin Anda benar-benar butuh? Atau hanya ingin?
Bertahanlah dari godaan menguras dana darurat untuk liburan, investasi, dan beragam pembelian lain yang tidak terencana–dan biasanya tidak Anda butuhkan.
Lebih buruk lagi kalau Anda tidak sadar Anda telah menggunakan dana darurat untuk belanja impulsif itu. Solusinya, simpan dana darurat dalam rekening terpisah dari rekening belanja harian. Kalau Anda susah mengendalikan diri, simpan buku tabungan dan buku cek dalam kotak terkunci.
Kesuksesan mengumpulkan dana darurat tergantung 2 hal:
- Konsistensi Anda menambah tabungan itu secara rutin
- Kemampuan Anda menahan diri dari penggunaan tabungan itu untuk segala ”kebutuhan”, yang sesungguhnya bukan darurat dan mendesak
Memilih Investasi dengan Pengembalian Tinggi
Tentu ada banyak produk investasi lainnya yang menawarkan pengembalian jauh lebih baik. Tapi kebanyakan ”mengikat” uang Anda dalam kurun waktu lebih panjang, atau memaparkan tabungan itu ke risiko fluktuasi pasar. Maukah Anda kalau dana darurat yang harusnya untuk kebutuhan darurat itu terikat hingga jatuh tempo? Yakin Anda masih bisa bernapas lega saat kebutuhan darurat itu muncul dan uang Anda berkurang nilainya akibat fluktuasi pasar? Tentu tidak. Lagipula, yang darurat bukan lagi disebut darurat kalau Anda bisa menebak kapan tepatnya. Karena itulah Anda bersiap-siap, ya kan?
Tidak ada komentar:
Write comments